Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Upacara penghormatan dan tahlilan untuk Pemimpin Syahid Republik Islam Iran, Yang Mulia Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei, digelar di Kairo dengan kehadiran luas tokoh-tokoh politik, budaya, akademisi, ulama agama, serta sejumlah duta besar dan kepala perwakilan diplomatik negara-negara sahabat.
Dalam acara tersebut, Mojtaba Ferdowsipour, Kepala Kantor Perlindungan Kepentingan Republik Islam Iran di Kairo, dalam pidatonya menyinggung dimensi kepribadian dan mazhab pemikiran Syahid Ayatullah Khamenei. Ia menyebut beliau sebagai teladan yang tak tertandingi dalam kepemimpinan yang berlandaskan iman, hikmah, keberanian, dan kesetiaan pada janji.
Ia menegaskan: “Pemimpin Syahid Republik Islam Iran, sepanjang tahun-tahun masa tanggung jawabnya, memandang dukungan terhadap bangsa-bangsa tertindas, pembelaan terhadap cita-cita Palestina, dukungan terhadap arus perlawanan, dan keteguhan menghadapi dominasi serta pendudukan bukan sebagai pilihan politik, melainkan sebagai kewajiban agama, moral, dan kemanusiaan.”
Ia menyebut kesyahidan Ayatullah Khamenei sebagai kehilangan besar, tetapi pada saat yang sama menggambarkannya sebagai awal babak baru dalam sejarah kawasan; sebuah babak yang melalui darah para syuhada memberi kehidupan baru bagi perlawanan.
Ferdowsipour menilai kehadiran puluhan juta orang dalam prosesi pemakaman Pemimpin Syahid, rangkaian acara besar di Irak, serta partisipasi internasional sebagai tanda keberlanjutan pemikiran perlawanan. Ia menegaskan bahwa kehadiran besar tersebut merupakan manifestasi persatuan nasional, pembaruan janji terhadap cita-cita Revolusi, dan baiat sadar kepada kepemimpinan baru.
Ia juga menilai partisipasi yang jarang tertandingi ini sebagai pesan yang jelas kepada dunia bahwa bangsa Iran tetap teguh pada prinsip-prinsipnya, meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Pada bagian akhir, Ferdowsipour mendoakan derajat yang tinggi bagi Pemimpin Syahid serta perdamaian dan kemuliaan bagi bangsa-bangsa kawasan. Ia juga menekankan pentingnya dialog dan solidaritas.
Dalam salah satu bagian acara ini, digelar meja bundar khusus dengan kehadiran sejumlah tokoh dan pakar Mesir serta non-Mesir, antara lain Dr. Ahmad Mustafa, Dr. Yusri Abu Shadi, Dr. Mona Hamed, Dr. Syekh Abdul Halim al-Azmi, Dr. Amjad Ahmad Tunis selaku Atase Kedutaan Sierra Leone, Dr. Hamdi Balat, Dr. Hasan al-Maghazi, Dr. Ashraf Abu Arif, dan Dr. Raed Abdul Jalil dari Jalur Gaza.
Meja bundar tersebut mengangkat tema “Pemikiran Perlawanan dan Masa Depan Kawasan, Kedudukan Perempuan, serta Pendidikan dan Pembinaan, khususnya Pendekatan Imam Syahid terhadap Pendekatan Antarmazhab dan Persatuan Islam.”
Di sela-sela acara, disediakan pula buku kenangan untuk mencatat pesan dan kesan para peserta. Selain itu, digelar pameran foto tentang kehidupan dan perjuangan Pemimpin Syahid serta Sekolah Minab, juga karya kaligrafi dan lukisan yang menggambarkan sosok Pemimpin Syahid.
Pameran tersebut mendapat sambutan hangat dari tokoh-tokoh politik, ulama agama, diplomat asing, para pemikir, dan insan media. Banyak peserta menghabiskan waktu cukup lama di galeri tersebut dan menyebutnya sebagai “dokumen visual yang hidup dari mazhab perlawanan.”
Your Comment